TEMPO Interaktif, JAKARTA -Banyak orang menilai situasi politik dalam negeri Malaysia sama seperti Indonesia di masa Orde Baru. Oposisi ditekan, dan media tak bebas mengkritik pemerintah. Perasaan itu dialami oleh Nurul Izzah, putri sulung pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim. Meski baru dua tahun menjadi anggota parlemen, ia sudah merasa tidak nyaman dengan kondisi politik negaranya.
Sebab, kata dia, begitu banyak intimidasi yang dibuat oleh rezim Perdana Menteri Najib Razak. Kepada Faisal Assegaf dari Tempo, ibu dua anak yang masih terlihat cantik ini menjelaskan soal kiprahnya sebagai politikus muda. Berikut ini penuturannya saat ditemui pada Selasa sore lalu di Hotel Aryaduta Semanggi, Jakarta.
Anda lelah dengan kasus ayah Anda?
Siapa yang mau ditimpakan fitnah sekeji itu untuk kedua kalinya. Seluruh keluarga merasa lelah dan marah karena kejahatan itu luar biasa. Tapi, di mahkamah, terwujud begitu banyak ketimpangan dalam dakwaan itu. Masa menunjukkan tidak ada kredibilitas dan ada konspirasi pihak tertinggi untuk mengulangi kasus fitnah ini.
Apa pernah berpikir ayah Anda seorang biseksual?
Tidak pernah wujud rasa tersebut. Sebagai muslim bertanggung jawab, bila didatangi kabar fitnah, itu merupakan kabar jahat.
Soal kasus Anwar, Anda merasa nyaman berpolitik?
Tentunya tidak. Siapa pun tidak perlu menjadi Anwar Ibrahim untuk merasakan memang tidak nyaman terjun ke politik karena banyak kejahatannya. Kita tidak boleh berdiam diri. Di bawah rezim BN (Barisan Nasional), sangat banyak kelemahan yang jelas, dan rakyat mau dan perlu perubahan. Bukan digantikan pemimpin sempurna, melainkan yang jauh lebih baik dari yang ada saat ini.
Anda pernah diintimidasi?
Tentu. Hak saya sebagai wakil rakyat dinafikan. Berceramah politik tidak dibenarkan. Tidak diberi ruang dan izin. Media pun begitu. Bila mereka menulis tentang saya, mendapat kecaman dari Pak Menteri. Ini merupakan taktik yang digunakan oleh pemimpin yang tidak yakin dengan kekuatannya.
Ancaman melalui SMS?
Ada, dan sudah berkali-kali. Pernah saya melakukan dialog dengan kumpulan pedagang keturunan Cina. Polisi menghentikan pidato saya dan mengambil mikrofon saat saya di atas pentas. Continue reading ‘Wawancara Khusus Tempo dengan Nurul Izzah, Anak Tokoh Oposisi Malaysia Anwar Ibrahim.’
Komen Terkini