Oleh ANWAR IBRAHIM
(Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia)
PERTEMUAN pertama dengan Pak Natsir adalah juga introduksi saya secara intim dengan Indonesia. Perkenalan itu terjadi pada 1967, ketika hubungan diplomatik di antara kedua negara—Indonesia dan Malaysia—pulih setelah mengalami konfrontasi. Sebelum pertemuan itu, saya hanya menghidu Indonesia dari sedikit pengetahuan sejarah melalui novel-novel Abdoel Moeis, Marah Roesli, Hamka, dan lain-lain.
Pada masa konfrontasi, saya terpukau oleh pidato-pidato Soekarno di hari Lebaran melalui Radio Republik Indonesia siaran Medan, yang saya dengar di kampung saya di Pulau Pinang. Ayah saya, yang ketika itu anggota parlemen dari partai pemerintah, ternyata tak senang dengan keasyikan saya ini.
Maka, ketika Himpunan Mahasiswa Islam yang dipimpin Cak Nur menyambut saya dan beberapa pemimpin mahasiswa Malaysia di Indonesia, tak ubahnyalah itu laksana menemui kekasih yang belum pernah ditemui. Rekan-rekan HMI, seperti Fahmi Idris, Mar’ie Muhammad, dan Ekky Syahruddin membawa saya, yang ketika itu baru berumur sekitar 20 tahun, menemui Pak Natsir. Karena saya begitu muda, dan melihat Pak Natsir sebagai mantan perdana menteri, pernah memimpin Masyumi—aliansi partai dan organisasi Islam yang terbesar di dunia—saya lebih banyak mendengar dari berkata-kata.
Apa yang terkesan bagi saya hingga hari ini dari pertemuan yang pertama itu adalah sosok, sikap, dan tingkah beliau yang amat sederhana. Selepas pertemuan dengan Pak Natsir, saya ke Bandung, dan di sana saya dibawa ke sebuah toko buku Van Hoeve yang secara zahirnya kelihatan usang dan berdebu. Toko buku tersebut merupakan penerbit karya-karya besar kajian Indonesia, seperti karya Van Leur, Indonesian Trade and Society, dan karya B. Schrieke, Indonesian Sociological Studies. Di toko itu, dan di atas lantainya yang berdebu, saya menemukan kedua buku tersebut serta dua jilid Capita Selecta, lantas membelinya.
Sejak zaman muda saya memang memberikan perhatian terhadap peran, ide, gagasan, serta ideologi dalam perjuangan dan gerakan politik. Saya kagum terhadap intelektualitas dan gagasan para filsuf. Melalui Capita Selecta saya tampak sosok intelektual Mohammad Natsir. Melaluinya saya mengenali Henri Pirenne, nama yang kini mungkin kurang dikenal, tapi di masa itu tesisnya mencetuskan polemik besar di universitas-universitas di Eropa dan pengkaji-pengkaji tamadun Barat. Muhammad et Charlemagne, yang ditulis oleh Pirenne, melontarkan gagasan bagaimana Islam menjadi faktor penentu dalam sejarah Eropa. Ketika itu tesis ini sungguh radikal, tapi sekarang sudah diterima umum di kalangan sarjana bahwa tanpa Islam, tamadun Barat tidak akan menghasilkan renaisans, tradisi rasionalisme, dan humanisme.
Sejak pertemuan pertama itu, setiap ke Jakarta dan mengunjungi Pak Natsir, saya diperkaya oleh imbauan baru berkaitan dengan isu umat Islam, sosial, dan politik mutakhir. Tatkala saya sudah membentuk Angkatan Belia Islam Malaysia, beliau senantiasa mengingatkan saya akan realitas sosial di Malaysia, dengan kehadiran jumlah masyarakat Cina, India, dan lain-lainnya yang substantif. Beliau sangat positif dan senantiasa menggalakkan interaksi serta dialog di antara organisasi Islam dan masyarakat bukan Islam. Sewaktu menjadi Menteri Keuangan, tatkala memacu pertumbuhan ekonomi, saya sering mengulangi pesan Mohammad Natsir, jangan kita membangun sambil merobohkan: membangun gedung sambil merobohkan akhlak, membangun industri sambil menindas pekerja, membina prasarana sambil memusnahkan lingkungan.
Pada 2004-2006 saya di Universitas Oxford, Inggris, dan beberapa universitas lainnya di Amerika Serikat, khususnya di Universitas Georgetown. Di universitas ini saya memberikan mata kuliah yang khusus tentang rantau ini, karena selama ini kajian Islam kontemporer hanya bertumpu di Timur Tengah dan negara-negara Arab, tempat resistansi terhadap demokrasi begitu kuat, sehingga muncul persepsi bahwa Islam tidak sejajar ataupun compatible dengan demokrasi.
Saya merasakan pengkaji-pengkaji Islam kontemporer di Barat tidak berlaku adil terhadap Natsir dan perjuangan umat Islam Indonesia umumnya. Sekiranya mereka mengkaji pemikiran Natsir dan Gerakan Masyumi serta sejarah ”demokrasi konstitusional” di Indonesia sebelum dihancurkan oleh Orde Lama, persoalan compatibility atau kesejajaran Islam dan demokrasi itu tidak akan timbul. Satu-satunya sarjana Barat yang berlaku adil terhadap Natsir dan Masyumi sebagai pelopor constitutional democracy di dunia membangun selepas Perang Dunia Kedua ialah sarjana besar Herbert Feith, yang magnum opus-nya berjudul The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia.
Namun saya tidak melihat Pak Natsir sebagai demokrat yang terisolasi. Beliau berada di dalam tradisi Islam Indonesia yang inklusif, dari tokoh seperti Oemar Said Cokroaminoto, Agus Salim, dan Wahid Hasyim. Di negara Arab kita menyaksikan pembenturan yang tajam antara tokoh-tokoh sekularis dan tokoh-tokoh islamis, antara Taha Hussain dan penghujah-penghujahnya dari Universitas Al-Azhar. Di Indonesia saya tidak menyaksikan pertembungan yang sebegini antara Sutan Takdir Alisjahbana yang memiliki orientasi yang hampir sama dengan Taha Hussain dan tokoh-tokoh Islam.
Negosiasi kreatif antara intelektual sekuler tapi tidak bermusuhan dengan Islam, dengan intelektual muslim yang ditampilkan oleh Natsir, amat bermakna bagi generasi muda muslim di Malaysia. Di Kuala Lumpur hari ini terdapat anak-anak muda yang mengunyah Polemik Kebudayaan, tapi mereka juga sebahagian dari gerakan Islam yang meneliti Capita Selecta. Debat Natsir-Soekarno tentang negara Islam dan sekularisme juga menarik bagi mereka dan mereka kira masih relevan dalam negosiasi Islam serta ruang awam di Malaysia.
Tapi tulisan Natsir yang paling tersebar luas di Malaysia ialah Fiqud Dakwah. Saya selaku Presiden ABIM ketika itu mencetaknya, termasuk menerbitkannya ke dalam edisi Jawi dan menjadikannya teks usrah ataupun grup studi kami. Saya begitu terkesan oleh buku ini karena metode dakwahnya bersifat moderat dan berhikmah. Melalui metode ini, ABIM dapat melebarkan sayapnya hingga menjadi organisasi massa dan gerakan Islam yang bergaris sederhana.
Pada awal 1980-an, ketika saya sedang menjabat Menteri Kebudayaan, Belia dan Sukan, saya berkunjung ke Indonesia. Saya ingin menemui Pak Natsir di kediamannya, tapi beliau lebih dulu menemui saya di hotel. Saya sangat terharu karena sikapnya yang merendah, sedangkan dia merupakan pemikir Islam besar. Maka saya mengundang beliau ke kamar untuk bersarapan pagi.
Natsir sedang menghadapi tekanan dari pemerintah, karena dia terlibat dengan Petisi 50. Ternyata pertemuan itu menimbulkan keributan di kalangan intel Orde Baru. Maka, ketika saya menemui Pak Harto, saya jelaskan bahwa Pak Natsir ibarat bapak saya di Indonesia dan bahwa pertemuan kami hanya mengobrol secara umum tentang umat Islam di Pakistan dan Arab Saudi. Pak Harto hanya diam mendengar penjelasan saya.
Terakhir kali saya selaku Timbalan Perdana Menteri menemui Pak Natsir di hospital ketika beliau sedang tenat. Suasana memilukan dan menyayat hati, saya sedih melihat keadaan hospital, dan saya merasakan layanan sebegini tidak layak untuk seorang pemikir Islam besar. Saya rasa wajar beliau mendapat layanan yang lebih baik. Beberapa bulan kemudian, saya mendapat berita beliau telah berpulang ke rahmatullah. Beliau sudah pergi, tapi legasinya masih menanti apresiasi yang adil dari luar rantau ini.
*Artikel ini telah disiarkan dalam majalah Tempo edisi 14 Julai 2008.




















salam datuk seri, syukran jazilan dan terima kasih kerana sudi hadir di kuis baru2 ini dan pada masa sama universiti pertama datuk seri selepas berbulan madu di sg buluh. :)
datuk seri, buat pengetahuan datuk seri, timbalan rektor kuis, khairy hj hussien yang menjawat jawatan itu bertahun2 menindas mahasiswa dari segi demokrasi dan memaki hamun pelajar yg menghantar memoranduk kpdnya berkenaan yuran dan demokrasi.
saya antara yang menjadi mangsanya suatu ketika dahulu.
harap datuk seri lakukan sesuatu dengan menukar org ini.
buat pengetahun datuk seri, khairy adalah ahli umno yang rapat dengan khir toyo selain cukup menekan student dari dulu hingga kini. beliau bersama halim mokhtar, pengurus jabatan pembangunan mahasiswa (hal ehwal pelajar) terpaksa menyertai keadilan sebaik tahu pakatan menawan selangor pada 8 mac lalu.
sehingga kini pengurursan kuis teruk, yuran dinaikkan sesuka hati, pendaftaran pelajar lembap, pelajar yang dijanjikan sambung pengajian di morocco dengan kerjasama kuis, di tipu bulat2 dan pelajar di maki selain dinafikan hak semasa pendaftaran kemasukan lalu.
ibu bapa pelajar yang datang berjumpa beliau untuk mendapatkan keterangan, dihalau dan dimarahi, walhal para keluarga pelajar berkenaan telah pun mengadakan majlis kesyukuran untuk keberangkatan pelajar ke morocco.
utk keterangan lanjut, datuk seri boleh bertanya sendiri kepada para pensyarah dan mantan mahasiswa yang sebelum ini.
lantik seseorang itu berasaskan kelayakan dan kewibaan dan bukan kerana proksi yang sehingga kini menjadi ejen kepada khir toyo n de geng.
saya optimis datuk seri yang pernah mengangkat martabat uia suatu ketkka dahulu pasti membantu kuis ke arah lebih baik selepas ini.
masdarwahid
Reply
kratos Reply:
January 12th, 2009 at 9:11 pm
benar,kolej tu pun dah jadi macam Kaut Untung Ikut Suka.naik menyampah tgk pentadbiran kangkun macam ni.
Reply
pawang Reply:
January 13th, 2009 at 11:27 pm
bila bercakap pasal KUIS, tidak SEMUANYA buruk atau lemah atau senget.hakikat kepujian dan penghargaan perlu ada untuk sebahagian KUIS. kita perlu puji pada pensyarah2 di kuis yang banyak bersabar dengan karenah pelajar dan pentadbiran, dan pujian juga pada subjek2 yang mendapat PENGHARGAAN dari pihak2 yang berakedamik. CUMA seperti kata masdarwahid tuh memang ada betulnya…saya adalah salah seorang pelajar KUIS yang senasib denganya, dan lebih menekan perasaan apabila yuran pengajian yang umpama gaji bulanan menteri betul2 buat pelajar tawar hati dengan KUIS.
Reply
saya turut terkesan dengan penceritaan oleh DS Anwar, seolah-olah Pak Nasir masih hidup hingga kini walau kami generasi baru hanya dapat menghadam idea dan gagasan yg diutarakan oleh intelektual dan politikus Islam seperti anda dan generasi terdahulu.
tapi kenapa apabila DS menulis di ruangan yg seperti ini, sedikit sekali yg memberi respon,komen atau apa jua pada suatu yg terlihat intelek dan dianggap berat? ke mana pergi ‘tukang2 komen’ yg lain? apakah hanya respon pada soal2′politik panas’ sahaja dan soal2 tentang sosok intelek-politik-Islamis kita hanya berdiam? mudah2an kita semua dapat menggarap apa jua yg diunjukkan, agar matlamat hidup dunia akhirat itu dapat kita gapai bersama.
( hanya sekadar renungan)
Reply
Salam Dato Seri, saya merasa dekat apabila membaca penceritaan YB Dato Seri, betapa Pak Natsir merupakan tokoh yang ulung serta pemikir yang cukup di kagumi oleh para pendukungnya, ketika saya berada di Indonesia pernuah juga hadir di Seminar pemikran Pak Natsir. betapa saya merasa kehilangan beliau walaupun jauh daripada berguru bah bersua sekalipun, saya sekadar hanya membaca sekelumit karya besar beliau namun amat terasa kehilangannya.
Reply
Saya antara yang mengikuti kuliah ilmu tentang Pak Natsir di KUIS baru-baru ini. Tetapi sayang keadaan sistem suara yang sedikit kelam menyebabkan perbicaraan penceramah pecah dan kurang tajam.
Sewaktu saudara menyampaikan kuliah saya betul2 memasang telinga kerana pada saya saudara adalah bekas pimpinan mahasiswa yang (pada awalnya) mengambil gerakan Islam sebagai idealisme dan mabda’ perjuangan. Kecenderungan saudara terhadap perbicaraan tetang gerakan saya amati satu persatu.
Satu kenyataan dari saudara bermaksud “Perjuangan harus diasaskan kepada tradisi ilmu, kefahaman Islam dan kefahaman masyarakat secara menyeluruh” begitu mengesankan saya.
Saya nampak saudara dan banyak lagi rakan politik di Malaysia sudah secara baik menyuburkan tradisi ilmu sebagai hujah bercakap, mahasiswa sekarang pun pada telahan saya walaupun tidak mampu membawa massa kejalanan tetapi mereka kritis dalam penulisan di blog, surat khabar, novel, buku sehingga menjadi api dalam sekam yang cukup menggusarkan pemerintah.
Begitu juga dalam memahami warna dan latarbelakang rakyat yang pelbagai. Sudah tahu meletakkan keadilan sebagai “garis tengah” untuk memimpin masyarakat majmuk.
Bagaimanapun persoalan saya adalah, bagaimana seharusnya pimpinan itu meletakkan “teras” rujukan dan perjuangannya? Kalau mengikut formula saudara teras tersebut haruslah “kefahaman Islam” yang mendasar dan membumi. Tetapi dalam banyak pidato dan ceramah umum saudara ada kenyataan2 yang seolah-olah berkompromi dengan perbicaraan “teras” ini.
Saya merujuk kepada wawancara wartawan BBC dengan saudara seputar topik “Racial Bias” di Malaysia. Berikut adalah cuplikan wawancara tersebut:
bbc:
you lead with a liberal moderate progressive view of islamic , but if you bring in people along , bring ethnic malays along into your alliance using religion don’t you risk that other understanding of islam will be just beneath the surface, there will be much more islamic state of malaysia something that enormous chinese are afraid of.
anwar:
well, we must encourage the series of conversation, i don’t suggest that my brand, my understanding should be accepted , we should allow for this variation, where do we draw the line, dont compel others to accept your view, thats why people do ask me, anwar you said you quite tolerance why is it that you work with people who demand to setup an islamic state,
i said why we deny people just talking about it???….
Saya ulangi “why we deny people just talking about it” . Kenyataan ini begitu menggusarkan saya. Seolah-olah saudara menganggap rakan saudara hanya bercakap (and just let them talk) dan cita-cita itu tidak mungkin dilaksanakan dalam sebuah negara yang masyarakatnya berbilang kaum.
Saya tak nampak dasar dan “teras” itu boleh dikompromi. Menegakkan semula daulah, khilafah, dan negara beraqidah adalah “teras” dan “dasar” perjuangan Nabi Al-Amin. Mengapa kita mempunyai cita-cita yang menyimpang dari manusia yang lebih dicintai Allah ini.
Bagi saya, kita boleh mengambil “garis tengah” keadilan apabila berhubung dengan manusia yang lain akidah dengan kita tetapi “teras” kita perlu jelas supaya perjuangan, hujah, pemikiran, pembacaan akan lebih banyak menumpu kepada politiknya Al-Amin daripada cuba mencipta jalan ciptaan sendiri. Wallahu ta’ala a’lam
Reply
Pak Natsir adalah antara cendikiawan ulung di nusantara ini, seharusnya pemimpin muda perlu menjadikan beliau sebagai idola perjuangan mereka..Bukannya dijadiakan pemimpin yang bersongkok, berkeris (sekadar luaran) tapi tidak berlandasan matlamat hidup sbgai seoranag khalifah islam
Reply
Assalamualaikum,
Tahniah DS Anwar atas ucap utama di Seminar Pak Natsir di KUIS tempoh hari. Sebagai generasi muda yg tidak pernah menemui almarhum, tetapi mengaguminya, analisis DS tentang sosok peribadi dan pemikiran almarhum amat megujakan. Pak Natsir-Fiqhud Dakwah-Capita Selecta-Henri Pirenne antara yg disinggung oleh DS. Saya tidak fikir kita punyai tokoh spt DS dalam sejarah Malaysia yg berupaya mengadun dinamika perjuangan Islam dan realiti semasa dengan serasi spt tema seminar, “Pak Natsir: berdakwah di jalur politik, berpolitik di jalur dakwah”. Tahniah DS dan teruskan!
Tahniah juga kpd penganjur seminar Pak Natsir. Diharapkan semua pihak sentiasa berusaha untuk menganjurkan seminar dan wacana segar tentang tokoh-tokoh terkemuka yg telah teruji dalam perjuangan sebagai model kpd umat.
Reply
Ass.
Jazakallah… atas perhatian dan apresiasi yang besar terhadap Almarhum Mohammad Natsir yang akan tetap hidup semangatnya. Semoga muncul Mohammad Natsir Mohammad Natsir Baru di Indonesia dan Malaysia.
Reply
Satu ungkapan Pak Natsir yang amat terkesan kepada saya ialah : ikan tertangkap, air tak keruh.
Itulah hikmah, barangkali hampir sama dengan : menarik benang dalam tepung, rambut tidak putus, tepung tidak berselerak. Namun saya melihat, ungkapan menarik rambut ….., lebih bertumpu kepada menyelesaikan masalah yang dihadapi, tapi ikan tertangkap ……., memfokus kepada mencapai suatu hajat atau maksud.
Pendek cito, hajat kita untuk melihat Malaysia Baru hendaklah dicapai tanpa mengeruhkan suasana yang sudah sedia baik di negara ini, namun sudah pasti semua kemungkaran mestilah dihapuskan.
TUTUH SAMPAI MONANG
Reply
terima kasih banyak atas pengalaman sejarah Bapak Anwar Ibrahim dengan pahlawan kita Muhammad Natsir. walau saya belum pernah membaca buku-buku beliau, tetapi sebagai orang yang juga berasal dari Minang kabau sumatera barat sangat bangga menjadi bagian dari sejarah generasi beliau. lebih bangga lagi sebagai orang yang seakidah dan seperjuangan.
terus berjuang Pak Anwar ibrahim. Innallaha ma’ana!
Reply