Archive for August, 2010



24
Aug

Malaysia Needs New Property Policy

From The Sun
By Himanshu Bhatt

Malaysia needs a new property rights policy to safeguard its population against rising prices and “market excesses” beyond the means of many people, Balik Pulau MP Yusmadi Yusoff said today.

Joining the debate on national housing, Yusmadi said the extremely high prices have denied many the opportunity to own homes.

He said that despite the quota system for bumiputras, many are still confined to their own kampungs and categorised as squatters because the land the villages stand on is owned by someone else.

In particular, Yusmadi said, the residents of Balik Pulau, both Malays and non-Malays, have become “mere spectators” as luxury housing projects way beyond their affordability come up in the area. Continue reading ‘Malaysia Needs New Property Policy’

23
Aug

Wawancara Khusus Tempo dengan Nurul Izzah, Anak Tokoh Oposisi Malaysia Anwar Ibrahim.

TEMPO Interaktif, JAKARTA -Banyak orang menilai situasi politik dalam negeri Malaysia sama seperti Indonesia di masa Orde Baru. Oposisi ditekan, dan media tak bebas mengkritik pemerintah. Perasaan itu dialami oleh Nurul Izzah, putri sulung pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim. Meski baru dua tahun menjadi anggota parlemen, ia sudah merasa tidak nyaman dengan kondisi politik negaranya.

Sebab, kata dia, begitu banyak intimidasi yang dibuat oleh rezim Perdana Menteri Najib Razak. Kepada Faisal Assegaf dari Tempo, ibu dua anak yang masih terlihat cantik ini menjelaskan soal kiprahnya sebagai politikus muda. Berikut ini penuturannya saat ditemui pada Selasa sore lalu di Hotel Aryaduta Semanggi, Jakarta.

Anda lelah dengan kasus ayah Anda?
Siapa yang mau ditimpakan fitnah sekeji itu untuk kedua kalinya. Seluruh keluarga merasa lelah dan marah karena kejahatan itu luar biasa. Tapi, di mahkamah, terwujud begitu banyak ketimpangan dalam dakwaan itu. Masa menunjukkan tidak ada kredibilitas dan ada konspirasi pihak tertinggi untuk mengulangi kasus fitnah ini.

Apa pernah berpikir ayah Anda seorang biseksual?
Tidak pernah wujud rasa tersebut. Sebagai muslim bertanggung jawab, bila didatangi kabar fitnah, itu merupakan kabar jahat.

Soal kasus Anwar, Anda merasa nyaman berpolitik?
Tentunya tidak. Siapa pun tidak perlu menjadi Anwar Ibrahim untuk merasakan memang tidak nyaman terjun ke politik karena banyak kejahatannya. Kita tidak boleh berdiam diri. Di bawah rezim BN (Barisan Nasional), sangat banyak kelemahan yang jelas, dan rakyat mau dan perlu perubahan. Bukan digantikan pemimpin sempurna, melainkan yang jauh lebih baik dari yang ada saat ini.

Anda pernah diintimidasi?
Tentu. Hak saya sebagai wakil rakyat dinafikan. Berceramah politik tidak dibenarkan. Tidak diberi ruang dan izin. Media pun begitu. Bila mereka menulis tentang saya, mendapat kecaman dari Pak Menteri. Ini merupakan taktik yang digunakan oleh pemimpin yang tidak yakin dengan kekuatannya.

Ancaman melalui SMS?
Ada, dan sudah berkali-kali. Pernah saya melakukan dialog dengan kumpulan pedagang keturunan Cina. Polisi menghentikan pidato saya dan mengambil mikrofon saat saya di atas pentas. Continue reading ‘Wawancara Khusus Tempo dengan Nurul Izzah, Anak Tokoh Oposisi Malaysia Anwar Ibrahim.’

21
Aug

Radical Reform And Tariq Ramadan

Dr Ahmad Farouk Musa
Courtesy of harakahdaily.net/en

What is perhaps clear to the perceptive minds of many rational thinking Muslims is that the challenge facing Muslims currently is not merely one of reformulating democratic principles in an Islamic idiom, but also of reforming and adapting Islam’s ethical and legal percept to the practice of democracy.

About a century ago, prospects appeared fairly hopeful that Islam would find a way to devise a system between faith and modernity.

Great theologians such as Muhammad Abduh (left) argued that while certain aspects of religion would remain immutable especially those concerning ib?dah (worship) and aq?dah (creed); issues of governance should be addressed through human reason since they fall under the realms of al-mutaghaiyyirat (the changing).

It was Abduh’s reformist agenda and rationalism then, with its emphasis on reason (‘aql) and God’s justice (‘adl), which seemed as if it might be able to ground a dynamic Islamic theology capable of successfully meeting the challenges of modernity.

Alas, these promising attempts were thwarted by the rise of the literal Salafis and its ramifications.

Ath-thawabit (the Immutable) and al-mutaghaiyyirat (the Changing)

One of the most prominent Islamic scholars and intellectuals who is at the forefront in combating the literalists is non-other than Tariq Ramadan (right), the grandson of the founder of The Muslim Brotherhood, Hasan al-Banna.

Tariq Ramadan in his book Radical Reform asserted that the contemporary literalist approach puts into evidence three reductions or confusions, which restrict interpretation and in effect make it impossible to give adequate answers to contemporary challenges.

The first reduction is the failure to distinguish between that which, in the Revelation, is immutable and that which is subject to change in accordance to the temporal evolution and environmental changes. Continue reading ‘Radical Reform And Tariq Ramadan’

20
Aug

Press Statement YB Azmin Ali On Racism

PRESS STATEMENT

20 August 2010

Parti Keadilan Rakyat (Keadilan) views with grave concern the continuing occurrence of incidents where racial hatred is incited, the latest being the statement made by the Johor school headmaster during a school assembly.

It is unacceptable to suggest, as stated by the Department of Education that it considers the matter closed and that the matter has been settled between the said principal and the students and/or their parents.

This incident has been widely publicized and is a matter that affects the whole nation. It is also irresponsible to suggest that it is merely a misunderstanding.

Keadilan demands that the said Principal be suspended pending an investigation and if found true that she did indeed make such remarks, she should be immediately removed.

These recurring incidents of incitement of racial hatred and racial insults are a manifestation of a bigger problem i.e the Barisan Nasional Government’s tacit encouragement of incitement of racism and lack of real political will to curtail such behaviour.

As long as draconian laws such as the ISA and Sedition Act exists and used to stifle healthy discussions and openly allowing extremist groups to continue inciting racism with impunity, this problem will fester.

Keadilan’s view is that statements such as that made by the Johor principal are not isolated incidents and must be dealt with a holistic and comprehensive approach.

Our answer is to provide a genuine multiracial political paradigm based on principles of fairness, respecting human rights, democracy and justice to all and to reject race based politics.

Further, we and Pakatan Rakyat are committed to the enactment of a Race Relations Act to deal with such instances of incitement of hatred, to provide mechanisms for resolution of such problems when they occur and to safeguard unity and harmony of the rakyat.

Azmin Ali
Vice President
Parti Keadilan Rakyat

20
Aug

Karpal Fail Aduan Terhadap Ketua Hakim Negara

Dari Malaysiakini

Ahli parlimen Bukit Gelugor Karpal Singh hari ini memfailkan aduan terhadap Ketua Hakim Negara, Tun Zaki Azmi – kes pertama di bawah Akta Kod Etika Hakim 2009 dan Akta Jawatankuasa Etika Hakim 2009 yang mula berkuatkuasa Mac lalu.

Dalam aduan yang dihantar melalui tangan ke pejabat Ketua Hakim Negara di Putrajaya hari ini, Karpal kata kenyataan Zaki berkaitan dengan rasuah pada 11 Jun lalu, menunjukkan “kecacatan watak’ yang mmbolehkan tindakan disiplin diambil mengikut akta berkenaan. Continue reading ‘Karpal Fail Aduan Terhadap Ketua Hakim Negara’

20
Aug

Umno Terus Menabur Fitnah dan Menyemarakkan Kebencian Kerana Terdesak

Kenyataan Media:

Kami memandang serius fitnah terbaru yang dimainkan pimpinan Umno untuk menyemarakkan api kebencian di negara ini. Tuduhan yang dilemparkan kepada Kerajaan Pakatan Rakyat Pulau Pinang bahawa nama Yang Di Pertuan Agong telah digantikan dengan Ketua Menteri Pulau Pinang Saudara Lim Guan Eng telah terbukti merupakan satu pembohongan semata. Saya sendiri memantau perkembangan tersebut, membaca teks khutbah yang diedarkan dan menerusi rakan-rakan di Pulau Pinang mendapati tuduhan tersebut tidak berasas bahkan ianya merupakan satu fitnah demi laba politik pemerintah yang kian hari kian terdesak.

Pimpinan Umno menerusi akhbar Utusan Malaysia berterusan menggunakan aksi politik perkauman sempit yang usang. Kegagalan pentadbiran Dato Sri Najib memahami nurani rakyat Malaysia keseluruhannya yang mahukan sebuah negara yang kekal aman dan sejahtera dizahirkan oleh kenyataan berunsur fitnah Datuk Seri Ahmad Zahid Hamidi tersebut.

Kita yakin usaha pimpinan Umno ini tidak akan berhenti di situ sahaja. Mereka pasti menganyam fitnah yang lain pula demi memecah belahkan muafakat masyarakat di negara ini yang mahu hidup dalam kerukunan dan sejahtera. Mereka menyedari rakyat Malaysia mempunyai keyakinan yang teguh untuk terus beriltizam dengan Perubahan dan demi Malaysia yang Adil. Oleh demikian saya menyeru rakyat Malaysia untuk perteguh keazaman bersama Pakatan Rakyat dan mara mengharungi serangan yang tidak akan kunjung diam dari pimpinan Umno itu. Hanya dengan melakukan Perubahan, politik perkauman sempit akan berjaya dihalang.

ANWAR IBRAHIM
AHLI PARLIMEN PERMATANG PAUH
KETUA PEMBANGKANG MALAYSIA

20
Aug

Guan Eng Tak Tahu Nama Disebut Dalam Doa Khutbah

Dari Harakah Daily
Oleh Dzulfikar Mashoor

Ketua Menteri Pulau Pinang, Lim Guan Eng mengaku bahawa beliau sendiri tidak mengetahui yang namanya disebut dalam doa dan khutbah Jumaat menggantikan nama Yang di-Pertuan Agong, Tuanku Mizan Zainal Abidin.

“Saya tidak sedar dan tidak mengetahui wujudnya penggunaan nama saya dalam khutbah kedua (sebelum) solat Jumaat sebagaimana didakwa, maka sudah tentu nama saya tidak harus (atau) tidak boleh digunakan,” ujarnya petang tadi pada majlis berbuka puasa bersama wartawan media-media alternatif di sebuah restoran di sini, malam ini.

Baginya, dakwaan Datuk Seri Dr. Ahmad Zahid Hamidi, Pengerusi Badan Perhubungan Umno Pulau Pinang bermotif politik provokasi. Continue reading ‘Guan Eng Tak Tahu Nama Disebut Dalam Doa Khutbah’

20
Aug

Jadual Ramadhan DSAI,21 Ogos 2010,Sabtu

Dato Seri Anwar Ibrahim akan menunaikan solat Isya dan bertarawikh serta Tazkirah bertempat di:

Tempat:Surau Insaniah(Surau Papan)
Berdekatan Blok 7, Taman Bukit Angkasa,
Pantai Dalam, Kuala Lumpur

Tarikh:21 Ogos 2010 (Sabtu)

20
Aug

Kenyataan Balas Nurul Izzah Anwar

KENYATAAN BALAS NURUL IZZAH ANWAR TERHADAP MENTERI PERTAHANAN MALAYSIA

19 Ogos 2010

Kenyataan saya dalam temubual bersama KOMPAS adalah berdasarkan jawapan rasmi Menteri Pertahanan pada 17 Mac 2010 bahawa kapal KD Tunku Abdul Rahman tidak dibenarkan menyelam kerana mengalami masalah teknikal.

Justeru, saya sedia disiasat oleh pihak polis dan saya berharap permulaan siasatan ini akan membawa kepada isu-isu berkait lain terutamanya dalam soal pembelian yang diberi kepada syarikat pilihan serta penyelenggaraan kapal selam tersebut dan siasatan yang sedang dilangsungkan oleh pihak perundangan Perancis terhadap kapal selam yang sama.

Menyebut tentang imej dan keselamatan Negara, yang kononnya terjejas daripada kenyataan saya, ingin saya bangkitkan kenyataan Menteri di parlimen pada hari yang sama yang menyatakan bahawa masalah teknikal sebegini juga dihadapi oleh banyak negara lain di seluruh dunia. Kalau maklumat tentang status selaman mana-mana kapal selam di seluruh dunia dapat diperolehi secara terbuka, di manakah rasionalnya bahawa kenyataan saya menggugat keselamatan Negara?

Pada hemat saya, kenyataan yang menggugat keselamatan Negara adalah kenyataan seperti dibuat pada 6 Ogos 2010 bertajuk Kapal selam sertai latihan terbitan Bernama, di mana diakui bahawa Latihan Kemahiran Laut yang lazimnya dilakukan tiga kali dalam setahun telah dikurangkan kepada hanya sekali setahun bagi menjimatkan perbelanjaan.

Bercakap tentang imej dan keselamatan yang menjadi asas Laporan Polis Tentera Laut Diraja Malaysia, apakah mungkin reaksi musuh-musuh Negara apabila diketahui umum bahawa TLDM hanya melakukan latihan sekali setahun atas alasan berjimat cermat? Sedangkan prinsip dasar pertahanan adalah persediaan, dan persediaan ini merangkumi latihan yang mencukupi.

Saya bimbang, sebagai negara yang mempunyai sempadan laut yang luas, Malaysia hanya menjalankan Latihan Kemahiran Laut setahun sekali. Saya percaya kebimbangan saya ini turut dikongsi pegawai-pegawai TLDM khususnya dan juga seluruh pasukan keselamatan.

Di dalam hasrat untuk berjimat cermat, saya desak Kementerian Pertahanan untuk melakukan kajian menyeluruh kepada skop perbelanjaan dan pembelian yang dilakukan oleh Kementerian, seperti lawatan-lawatan ke luar Negara, dan acara-acara dan pembelian-pembelian yang tidak berkaitan dengan latihan diteliti supaya penjimatan sebenar dapat dibuat demi memastikan latihan TLDM, khusunya Latihan Kemahiran Laut tidak dikorbankan.

Bukankah penderhaka sebenar adalah mereka yang menggunakan dana negara untuk membayar kos penyelenggaraan tinggi untuk syarikat anak emas pilihan dan pembelian alatan ataupun kos projek yang berganda demi memenuhi poket-poket mereka yang terpilih? Kalau benar Menteri Pertahanan seorang patriot, kenapa beliau tidak menyokong siasatan SPRM terhadap bayaran komisyen lebih RM500 juta kepada Perimekar Sdn Bhd untuk pembelian kapal selam Scorpene seperti yang dinyatakan oleh Speaker Dewan Rakyat pada 2 Julai lalu?

19
Aug

Sodomy Circus Turns Into a Sex Opera!

19
Aug

DAP Supports Anwar’s Call For Proof Of Allegation Of The Existence Of an Alternate Constitution

Media Statement by DAP Parliamentary Leader and MP for Ipoh Timor Lim Kit Siang in Petaling Jaya on Thursday, August 19, 2010:

DAP supports Anwar’s call for proof of allegation of the existence of an alternate constitution to replace the current one to erase special rights of the Malays and the position of Islam as the official religion

DAP supports the call by Parliamentary Opposition Leader and Ketua Umum PKR Datuk Seri Anwar Ibrahim for proof of the allegation of the existence of an alternate constitution to replace the current one to erase special rights of the Malays and the position of Islam as the official religion.

This allegation by the Perak Mufti Tan Sri Harussani Zakaria is a very serious and inflammable one and should not be made without proof.

This allegation has already been the basis of a very alarmist front-page Utusan Malaysia headline “Elak perang besar” on Tuesday and an incendiary article entitled “Benar, ‘perang besar’ boleh berlaku di Malaysia” yesterday.

DAP leaders had never heard or known of such an alternate constitution.

Any such an alleged alternative constitution could not have emanated from Pakatan Rakyat as the component parties of PKR, PAS and DAP had reaffirmed commitment to the fundamental principles of the Malaysian Constitution in a common platform last December. Continue reading ‘DAP Supports Anwar’s Call For Proof Of Allegation Of The Existence Of an Alternate Constitution’

19
Aug

Pencapaian Setengah Tahun Ekonomi Negara


–Kenyataan Media–

PENCAPAIAN SETENGAH TAHUN EKONOMI NEGARA:
PAKATAN RAKYAT MENJANJIKAN PENDAPATAN ISI RUMAH MINIMUM MENJELANG 2020

Pencapaian setengah tahun ekonomi negara bersama dengan angkanya telah diedar/dikeluarkan semalam. Ianya seperti yang dijangkakan. Pertumbuhan sebanyak 8.9% pada suku kedua dan 10.1% pada suku pertama, sungguhpun memberansangkan, hakikatnya angka tersebut berdasarkan ekonomi yang menguncup pada tahun 2009, iaitu pada kadar 1.9% . Jika dibandingkan dengan Indonesia dan Singapura, pertumbuhan yang dicatatkan ini membolehkan kita membandingkannya dengan pencapaian negara-negara jiran pada masa akan datang sekiranya reform/perubahan tidak dilaksanakan segera- Singapura dijangka mencatat pertumbuhan sekitar 13%-15% pada tahun 2010, manakala Indonesia dijangka mencatat pertumbuhan sekitar 6% kelansungan dari pertumbuhan yang dicatat pada tahun lalu iaitu 4.9% tatkala Malaysia dibelenggui kemelesetan.

ANGKA CUBA MENGABURI HAKIKAT SEBENAR

Apa yang pasti pengumuman semalam tidak mencerminkan realiti ekonomi buat kebanyakan rakyat negara ini. Sejumlah 2.4juta keluarga bersamaaan 40% isi rumah negara ini hanya berpendapatan RM 2300 sebulan, membentuk golongan termiskin di negara ini. Wajar diberi perhatian adalah 75% dari jumlah itu merupakan keluarga Melayu dan peribumi.

Upah yang rendah begitu menekan rakyat Malaysia tatkala mereka terpaksa berdepan dengan kos kehidupan yang semakin hari semakin meningkat. Kebanyakan graduan yang berjaya mendapat pekerjaan bergelut hanya untuk membayar segala macam bil, jauh sekali mampu untuk menabung.

Hakikat ekonomi buat kebanyakan rakyat Malaysia yang berbeza dengan apa yang diumumkan semalam memperlihatkan sebuah pengurusan ekonomi yang gagal membasmi ketidaksamaan dalam masyarakat. Setiap kali kita membincangkan kedudukan ekonomi negara, terutama apabila menyentuh jurang yang kian melebar, pastinya kedudukan ekonomi dapat disimpulkan sebagai “Yang Kaya Bertambah Kaya, Yang Miskin Papa Kedana.”

Program Transformasi Ekonomi(ETP) yang dikeluarkan oleh Jabatan Perdana Menteri pada 17 Ogos 2010 tidak menjelaskan sebarang peta jalan(road map) untuk merapatkan jurang tersebut. Program Transformasi Ekonomi menjanjikan ekonomi yang sihat dan lebih baik serta peningkatan pendapatan negara kasar dari RM 600billion (yang dijanjikan pada tahun 2009) kepada RM 1.7 billion menjelang tahun 2020. Peningkatan tersebut dikatakan mencipta 3.3 juta pekerjaan baru dan pendapatan per kapita sebanyak RM 49 500 menjelang 2020.

SASARAN PROGRAM TRANSFORMASI EKONOMI MUSTAHIL

Sebagai satu pelan ataupun kebijakan, ianya pasti sedap didengar. Namun sepertimana kebijakan atau dasar yang dibentangkan sebelum ini, Kerajaan Persekutuan sering melontar angka-angka besar dan bersembunyi di belakang asumsi serta premis yang akhirnya terbukti salah.

Demi untuk mencapai matlamat yang digariskan itu, Malaysia memerlukan RM 2.2 trilion pelaburan, 92% dari jumlah tersebut dijangka dari sektor swasta. Manakala itu 75% dari 92% tersebut sepatutnya dari pelaburan tempatan secara langsung dan bakinya dari pelaburan asing secara langsung.

Berasaskan inilah matlamat yang digariskan oleh pentadbiran sekarang pada pandangan kita tidak berpijak pada hakikat ekonomi yang sebenarnya. Mengumumkan sebuah kebijakan yang bercita-cita tinggi manakala untuk mencapainya berasaskan pelaburan swasta semata merupakan satu perancangan yang tidak bertanggungjawab sedangkan selama 12 tahun ini Malaysia begitu bergantung kepada “pump priming” dan pertumbuhan pelaburan swasta begitu kecil. Perancangan tersebut cuba mencapai yang mustahil dan menafikan rekod sebelumnya hanya demi sebuah pengumuman.

Begitu juga dengan sasaran untuk mencipta 3.3 juta pekerjaan baru dan pendapatan per kapita sekitar RM 49, 500 menjelang 2020 merupakan satu matlamat yang terpisah dari hakikat kesusahan rakyat sepanjang 10 tahun ini. Hakikatnya 34% dari tenaga kerja kita berpendapatan di bawah paras kemiskinan(kurang dari RM 700 sebulan) dan peningkatan upah hanya pada kadar 2.6%(berbanding 10% yang dicapai Indonesia di antara 2007 dan 2009)

Usaha untuk mengalihkan perhatian dengan membentangkan angka-angka baru telah membenihkan sikap untuk tidak cuba berdepan dengan punca permasalahan yang sebenar. Walaubagaimanapun saya yakin rakyat sedar ini merupakan satu lagi upaya untuk menyogok khabar muluk demi mengelirukan serta mengalihkan perhatian mereka dari hakikat kedudukan ekonomi yang sebenarnya tidak berubah sepanjang dua tahun ini.

SASARAN PR SETIAP ISI RUMAH BERPENDAPATAN RM 4000

Saya menegaskan kebijakan ekonomi yang mampu membasmi kemiskinan merupakan satu perancangan yang tidak terpisah dengan hakikat ekonomi rakyat dan akar umbi.

Sejumlah dua pertiga dari penduduk negara ini, pendapatan isi rumahnya berada di bawah RM 4000 sebulan. 4juta keluarga akan terus berdepan dengan kenaikan kos sara hidup, kecualilah ada upaya yang menjurus untuk meningkatkan pendapatan mereka dengan kadar segera.

Oleh itu selepas beberapa siri perbincangan dan penelitian, Keadilan bersetuju untuk menetapkan serta mensasarkan pendapatan isi rumah minimum pada kadar RM 4000 dalam jangka masa 5 tahun pentadbiran persekutuan Pakatan Rakyat nanti. Dasar yang dibentangkan ini akan dibawa ke Majlis Pimpinan Pakatan Rakyat untuk perbincangan selanjutnya.

Keadilan akan mencadangkan kepada rakan-rakan dalam Pakatan Rakyat untuk melaksanakan beberapa kebijakan yang berupaya untuk melonjakkan kadar upah di negara ini demi mencapai kadar minimum pendapatan isi rumah RM 4000. Di antara dasar tersebut ialah iltizam untuk memerangi ketirisan serta rasuah, melakukan reform terhadap sistem kehakiman serta institusi awam lainnya di samping mengembalikan kredibiliti, ketelusan dan pertanggungjawaban untuk menarik pelaburan asing secara langsung(FDI).

Negara ini tidak boleh lagi menabur janji serta membentangkan perancangan yang tidak mampu dicapai dan tidak memberi manfaat kepada rakyat. 30% pegangan ekuiti yang dijanjikan Umno masih gagal dipenuhi dan ternyata memberi kesan yang nyata kepada keluarga Melayu yang sentiasa bergelut dengan upah rendah serta kos sara hidup. Namun demikian dasar itu sering di war warkan sebagai anugerah Umno kepad rakyat.

Asas kepada kebijakan pembangunan kita sewajarnya menjurus kepada penciptaan masayarakat yang adil serta memberi penumpuan kepada pengagihan adil khazanah dan sumber nagara.

YB DATO’ SERI ANWAR IBRAHIM
KETUA PEMBANGKANG
19 OGOS 2010 Continue reading ‘Pencapaian Setengah Tahun Ekonomi Negara’