
W.S Rendra dan Datuk Seri Anwar Ibrahim di dalam majlis Mengenang Kebangkitan Nasional Budi Utomo di Kota Batu, provinsi Malang tahun lalu.
Oleh Hasmi Hashim
Aku merindukan mata bayi
Setelah aku dikhianati mata durjana
Aku merindukan matahari
Karena aku dikerumuni mata gelap.
Puisi dilafazkan. Saya selalu percaya seseorang penyair tidak muncul di pentas hanya karena kata-kata ‘indah’, lagi rapi. Justeru pentas memang bukan seluruhnya tempat untuk sebuah aksi ‘lakon’ semata-mata. Ia, mula-mulanya terpanggil. Kemudian, memanggil…
Kali pertama, saya menyaksikan WS Rendra mendeklamasi puisi, 8 tahun lalu. Di sebuah acara, di Petaling Jaya.
Rendra, dengan sosok yang tinggi, tua, namun tampan, menyingkap dan menggerbangkan rambutnya yang menghela lewat bahu. Semua orang terkaku. Masing-masing seperti menunggu ‘sabda’ dari lidah sang penyair. Lebih-lebih lagi saya yang masih rebung… umur belum cecah 25, tahun itu. Sebuah acara yang jarang-jarang berlangsung, pun berlangsung—meski saya sendiri sering turut serta dalam sekian banyak acara baca puisi. Namun sekali itu, lain.










Recent Comments