
W.S Rendra dan Datuk Seri Anwar Ibrahim di dalam majlis Mengenang Kebangkitan Nasional Budi Utomo di Kota Batu, provinsi Malang tahun lalu.
Oleh Hasmi Hashim
Aku merindukan mata bayi
Setelah aku dikhianati mata durjana
Aku merindukan matahari
Karena aku dikerumuni mata gelap.
Puisi dilafazkan. Saya selalu percaya seseorang penyair tidak muncul di pentas hanya karena kata-kata ‘indah’, lagi rapi. Justeru pentas memang bukan seluruhnya tempat untuk sebuah aksi ‘lakon’ semata-mata. Ia, mula-mulanya terpanggil. Kemudian, memanggil…
Kali pertama, saya menyaksikan WS Rendra mendeklamasi puisi, 8 tahun lalu. Di sebuah acara, di Petaling Jaya.
Rendra, dengan sosok yang tinggi, tua, namun tampan, menyingkap dan menggerbangkan rambutnya yang menghela lewat bahu. Semua orang terkaku. Masing-masing seperti menunggu ‘sabda’ dari lidah sang penyair. Lebih-lebih lagi saya yang masih rebung… umur belum cecah 25, tahun itu. Sebuah acara yang jarang-jarang berlangsung, pun berlangsung—meski saya sendiri sering turut serta dalam sekian banyak acara baca puisi. Namun sekali itu, lain.
Yang ‘lain’ itulah, sewajarnya coba difahami oleh anak-anak muda pasca September 1998. Rentetan program julung kali itu, wawancara eksklusif bersama Rendra pun terbit di dalam akhbar Berita Keadilan. Saya mewawancarainya, yang barangkali kepadanya, saya dan seorang lagi teman penulis, MR Al-Mustaqeem hanya wartawan hingusan yang banyak bertanya.
Lewat wawancara yang agak panjang itu tamat apabila ujar Rendra, “maaf, saya mahu ke ‘rumah kecil’.” Menyoal Rendra sebagai seorang wartawan tidak penting. Yang penting sebenarnya bagi saya adalah mendalami Rendra itu sendiri…
Hanya kemudian baru saya tahu, bapak Rendra telah menerobos semacam ‘sumpah’-nya sendiri. Sejak Anwar Ibrahim ditangkap dan dipenjara, Rendra menanam tekad betapa dia tidak akan menjejakkan kaki ke Kuala Lumpur. Tekad itu adalah tanda persaudaraan dan solidariti kepada Anwar.
Loh! Dia datang juga apabila Anwar yang mengundangnya. Undangan yang terpaksa diseludup dari penjara. Dalam kesempatan kedua, saya menjemputnya di lapangan terbang, 5 tahun kemudian iaitu pada 2007. Kali ini Institut Kajian Dasar (IKD) mengatur acara “Pidato Kebudayaan”—dan saya tidak perlu lagi memakai tag “wartawan” hanya untuk mengambil peluang untuk berbicara dengannya dengan dekat.
Anwar sudah bebas—kira-kira setahun sebelumnya. Mereka dapat bersama di pentas kebudayaan. Rendra membaca puisinya dan Anwar berpidato. Hari itu hari Ahad pagi. Dewan mulai penuh dengan wajah-wajah seniman-karyawan, politikus dan aktivis. Di satu sudut, penulis lirik terkemuka, (allahyarham) Loloq juga hadir. Di sebelahnya, seorang yang sangat saya tunggu-tunggu.
“Kalau mereka suruh angkat parang, gua akan angkat parang selepas dengar Rendra baca puisi dan Anwar punya pidato,” kata Loloq. Semangatnya sudah naik ke kepala. Dia ketawa.
Dalam kesempatan Rendra-Anwar bertemu, saya melihat kemesraan kedua insan yang bersahabat sejak sekian waktu. Mereka ngobrol panjang. Di rumah [lama] Anwar, di Jalan Setia Murni 1, Bukit Damansara. Ada kalanya ketawa berderai-derai walaupun masing-masing pernah melalui pengalaman dan mengenal betul apa itu gelapnya penjara.
Paman Doblang! Paman Doblang!
Mereka masukkan kamu ke dalam sel yang gelap.
Tanpa lampu. Tanpa lubang cahaya. Pengap.
Ada hawa. Tak ada angkasa.
Terkucil. Temanmu beratus-ratus nyamuk semata.
Terkunci. Tak tahu di mana berada.
Paman Doblang itu siapa? Telahan Khalid Jaafar, suatu hari di pejabatnya di Jalan Telawi, “Rendra sendiri…” bisik Khalid. Semacam separuh rahasia.
Andai benar “Paman Doblang” itu adalah Rendra sendiri, justeru anak-anak muda wajar memberikan salut kepadanya sejak sebelum tercetus Reformasi 1998 di kedua buah kota: Jakarta dan Kuala Lumpur. Tatkala kita di Malaysia baru bermula, mereka di tanah seberang, sedang pelan-pelan menikmati manisnya demokrasi.
Masih melekat kuat ingatan bagaimana di akhbar-akhbar foto Rendra yang sedang beraksi di dalam teater “Menunggu Kereta Kencana”. Dipentaskan pertama kalinya di Kuala Lumpur. Dia beraksi berdua, dengan sang isteri.
Sambutannya luar biasa, memang, menurut akhbar-akhbar. ‘Kecelakaan’ dan sumpah sial yang menimpa seni tinggi (seperti teater) mungkin sudah tamat. Duga saya. Dugaan yang saya terpa agak gopoh apabila mengukur paparan media yang begitu meluas.
Di belakang segala laporan akhbar itu, rupa-rupanya yang memungkinkan Rendra berjaya mementaskan Menunggu Kereta Kencana adalah karena inisiatif Anwar sendiri, yang ketika itu adalah Timbalan Perdana Menteri.
~Coba sahaja kita bedakan, bagaimana hapraknya Timbalan-timbalan Perdana Menteri selepas Anwar yang langsung tidak punya citarasa seni tinggi.
Andai tidak tumpas ingatan saya yang mengikuti berita Rendra sepenuhnya melalui media sewaktu masih mahasiswa di Jabatan Seni Halus; betapa penyair besar Indonesia ini juga pernah diundang Anwar membacakan puisi di hadapan kakitangan pejabat TPM.
Saya seakan dapat membayangkan, pegawai-pegawai kerajaan itu, terpinga-pinga. Terlopong-lopong, terkial-kial seraya bertanya di dalam hati apakah sesungguhnya yang sedang mereka depani itu. Hanya karena arahan bos mereka, Anwar, maka mereka pun mendengar. Kalau tidak, tidak mereka ingin begitu!
Skeptikal dan sinisnya pandangan sebegini adalah karena melihat bagaimana sebahagian besar orang yang rapat dengan Anwar sekalipun—sama ada sebelum Reformasi ‘98 mahupun pasca ‘98—sesungguhnya tak kenal, tak endah dengan seni-budaya. Juga di kalangan pimpinan Keadilan. Mereka tiba-tiba ‘menaruh hati’, karena, Anwar yang dahulu punya hati.
Rupa-rupanya tinggi-rendahnya sesuatu acara budaya, di Malaysia, bergantung sepenuhnya kepada bapak-bapak menteri kalau pun tidak perdana menteri itu sendiri. Dasar, polisi dan kebijakan sering tidak membawa apa-apa pengertian besar kepada perkembangan seni-budaya.
Andai bernasib baik, di kalangan menteri yang punya kesedaran dan mahu berhadapan dengan persembahan seni tinggi, maka tinggilah akal-budi rakyatnya. Kalau tidak, maka ceteklah petunjuk budaya yang terpampang kepada sekian warganegara.
Apa yang dimaksudkan oleh Rendra sebagai “daulat rakyat” itu tidak disedari, apatah lagi bermunculan. Dalam sebuah pidatonya yang mashyur dan menyengat, “Megatruh.” Laung Rendra: Para pemimpin bangsa kita, dari sejak zaman raja-raja dahulu kala, memang tidak pernah menaruh perhatian kepada pengembangan Daulat Manusia pada umumnya.
Sebelum mengenali secara langsung dengan bapak Rendra, saya terlebih dahulu mengenali puisi-puisinya, tulisan-tulisannya yang saya temukan di merata buku dan makalah. Selalu di dalam demontrasi-demontrasi, ceramah-ceramah, saya memilih-baca mana puisi yang saya perhitungkan sesuai dengan perjuangan Kebebasan di Malaysia.
Seniman pun naik ke pentas. Dia mendapatkan lenggoknya, dan, sudah tentu ’suaranya’.
Tapi seperti segelintir pegawai kerajaan yang kebingungan, ya ada orang bertanya… apa perlunya puisi? Ada perlu seni dan manusia seniman itu? Barangkali, apa lebihnya mereka, dari kami, [misalnya] seorang politikus? Lebih-lebih lagi yang punya kuasa… Ya, apa perlunya manusia seperti Rendra bagi sebuah bangsa yang mahukan segala kefahaman dengan semudah memetik jari.
Daripada sajak yang saya kutib di kepala tulisan ini, “Tentang Mata”, di perenggan akhir Rendra sediakala coba memberi secebis jawapan dengan molek, dengan tegas ~ iaitu demi mewujudkan “harapan di tengah gemalau ancaman.”
Penyair di pentas dalam sedar-tak-sedar telah bertindak sebagai sang pembawa harapan. Ia—atau sesiapa sahaja yang punya upaya untuk membawakan harapan adalah—di kalangan manusia yang kenal betapa kesakitan itu bagaimana (?) artinya. Di sini, kata “kenal” telah mendahului kata “harapan”.
Kebebasan telah mendahului segala penjara…
“Daulat rakyat” wajar mendahului “daulat alam”.
Mungkin sahaja, “kenal” bagi Rendra tergambar di dalam sajak panjang, yang juga tersohor, Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta. Beberapa potongan diperturunkan:
Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Dari kelas tinggi dan kelas rendah
Telah diganyang
Telah haru-biru
Mereka kecut
Keder
Terhina dan tersipu-sipu
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kaurelakan dirimu dibikin korban.
Kira-kira seminggu sebelum Rendra menghempus nafas akhir pada 6 Ogos 2009 lalu, saya membacakan tiga puisinya di acara seni-budaya Frinjan, di Shah Alam. Berita beliau terlantar di rumah sakit saya dimaklumi lebih sebulan sebelum itu.
Di dalam Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta adalah sebuah rakaman pengalaman para pelacur yang dikutip Rendra di jaman di mana manusia bangga punya tokoh-tokoh Revolusi yang meletakkan daulat alam tinggi ketimbang harga diri insan. Di mana sekian ramai orang percaya kepada sebuah kata, iaitu, “r-e-v-o-l-u-s-i.”
Antara nama pelacur yang disebut jelas-nyata oleh Rendra, adalah Sarinah. Adegannya bermula apabila sang pemimpin revolusi memanggil Sarinah ke kantor.
Sifat yang bukan sifat manusiawi dirakam di sana. Sifat itu dinamai sebagai sifat kebinatangan, yang diwarisi daripada “daulat alam” itu sendiri. Sarinah, iseng-isengan menjadi “inspirasi” kepada para pemimpin… sambil “kutang bajumu dibuka.” Kedahagaan dan keserakahan warisan alam binatang di kalangan segelintir pemimpin, di dalam “sajak pelacur itu” hanya sebuah daya bagi membuktikan bahawa hipokrasi berada di dalam bilik kekuasaan.
Masakan tidak. Rendra menutup puisi itu dengan ejek-ejekan dahsyat:
Saudari-saudariku
Jangan melulur keder pada lelaki
Dengan mudah
Kalian bisa telanjangi kaum palsu
Naikkan tarifmu dua kali
Dan mereka akan klabakan
Mogoklah satu bulan
Dan mereka akan puyeng
Lalu mereka akan berzina
Dengan isteri saudaranya.
Yang munafik akan habis. Yang adil akan muncul. Hanya dalam semua jejak perjuangan, ia memerlukan sebuah keinsafan. Ia bermula dengan…
Kesedaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian adalah cakrawala
Dan,
Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.
***
Di bawah pohon asam, di sebuah rumah kampung di Malang, Surabaya, duduk beberapa orang. Kek hari lahir dinyalakan lilinnya. Bapak Rendra yang tadinya tertidur seketika sewaktu kami sampai, bangun. Membasuh muka dan tersenyum.
Kek itu adalah kiriman Anwar yang sudah berangkat pulang ke Kuala Lumpur sebelum ke India keesokannya.
Kami pun menyanyikan lagu selamat kepadanya. Dia ketawa. Kek dipotong. Satu sisih saya jamah, dan Pak Khalid masih mahu berbual. Sambung bicara selepas ada yang tidak sempat selepas dialog dan diskusi mengenang 100 tahun kebangkitan nasional Beodi Utomo.
Acara baca puisi di bawah pohon asam itu berlangsung tahun lalu. Hari di mana saya seakan-akan sudah dapat menduga, ia adalah pertemuan terakhir kami.
Bapak tidak akan pernah meninggalkan kami sepenuhnya, bukan? Willibrordus Surendra Broto Rendra (WS Rendra: 1935-2009).
Hasmi bin Hashim, seorang penulis yang berpolitik dan juga seorang politikus yang menulis.
















