<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Respon Balas Buat Ginot</title>
	<atom:link href="http://anwaribrahimblog.com/2007/01/31/respon-balas-buat-ginot/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://anwaribrahimblog.com/2007/01/31/respon-balas-buat-ginot/</link>
	<description></description>
	<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 13:48:03 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
		<item>
		<title>By: LB</title>
		<link>http://anwaribrahimblog.com/2007/01/31/respon-balas-buat-ginot/#comment-1459</link>
		<dc:creator>LB</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 16:23:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anwaribrahimblog.com/?p=450#comment-1459</guid>
		<description>Saudara Genot,

Terima kasih atas cebisan ulasan sejarah Tanah Melayu yang ringkas tapi sarat. Namun ianya terkandung amaran yang cukup menakutkan atas masa depan tanah bertuah ini.  Apakah sejarah bisa kan berulang kini dengan kerakusan pihak feudal pemerintah menekan golongan marhaen sebagai bakal tanda kehancuran persis Kerajaan Melaka...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saudara Genot,</p>
<p>Terima kasih atas cebisan ulasan sejarah Tanah Melayu yang ringkas tapi sarat. Namun ianya terkandung amaran yang cukup menakutkan atas masa depan tanah bertuah ini.  Apakah sejarah bisa kan berulang kini dengan kerakusan pihak feudal pemerintah menekan golongan marhaen sebagai bakal tanda kehancuran persis Kerajaan Melaka&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: genot widjoseno</title>
		<link>http://anwaribrahimblog.com/2007/01/31/respon-balas-buat-ginot/#comment-1457</link>
		<dc:creator>genot widjoseno</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 02:51:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anwaribrahimblog.com/?p=450#comment-1457</guid>
		<description>Terima Kasih atas responnya.

Berikut sedikit saya ulas tentang sejarah kemiskinan di semenanjung ini. Penyebabnya jelas sistem liberalisme-kapitalisme. 

Menurut Anthony Reid (Sejarah Modern Awal Asia Tenggara, Pustaka LP3ES Indonesia, 2004), kondisi kemiskinan di Asia Tenggara merupakan fakta yang tragis. Sebab penelusuran sejarah Reid, berdasar data dan dokumen tertulis Abad 16 M, menunjukkan bahwa tidak pernah ada laporan-laporan tentang adanya kekurangan pangan, bencana kelaparan dan kesengsaraan seperti sering ditemukan di India, Cina, atau bahkan Eropa pada masa itu (h. 289). 
Sebabnya cukup jelas. Mereka mengandalkan curah hujan yang cukup tinggi, tekanan jumlah penduduk sangat rendah, dan jika gagal panen masih banyak alternatif pengganti, seperti sagu, pisang, kelapa, ikan dan berbagai jenis umbi-umbian serta buah-buahan yang bisa diperoleh secara mudah oleh setiap orang. 
Perabotan rumah tangga masyarakatnya memang sangat sederhana, dan modal utama kelas-kelas bawah ditanam dalam bentuk ornamen-ornamen terbuat dari emas dan berbagai jenis senjata.
Di ujung spektrum lain terdapat kemewahan dan konsumsi berlebih-lebihan yang ditemui di beberapa istana dan pusat-pusat perniagaan Asia Tenggara. Di Aceh dan Brunei, raja menjamu tamunya dengan pesta-pesta meriah beserta lusinan hidangan yang disajikan di pinggan emas (h 290). Saudagar-saudagar terkaya dari Melaka konon memiliki emas berlimpah (Sejarah Melayu, 184); Sultan Iskandar Muda dari Aceh mempekerjakan 300 tukang emas di istananya (Beaulieu, 184); seorang ahli bedah Jerman mendapat hadiah 300 rijksdaalders dari seorang saudagar Banten yang sangat berterima kasih kepadanya (Fryke 1692, 133). 
Kekayaan tersebut diperoleh langsung atau tidak langsung dari perdagangan. Dalam kaitan ini, kota-kota di Asia Tenggara abad ke-16 dan awal abad ke-17 lebih mirip Venesia, Genoa dan Antwerpen daripada Delhi atau Golconda (India). Menurut catatan Tome Pires (1515), seorang pengelana Portugis, magnet kawasan Melaka digambarkan lebih menonjol dibanding kawasan Laut Tengah. 
Ditinjau dari segi penduduk dan ukuran perdagangan, kota-kota Asia Tenggara dapat disejajarkan dengan kota tersibuk di Eropa abad ke-16. Melaka memiliki penduduk mendekati 100.000 orang pada 1520, Aceh dan Brunei setidak-tidaknya setengahnya (sekitar 50.000 orang). Pada abad ke-16 hanya Paris dan Napoli di Eropa yang berpenduduk di atas 100.000 orang. Banyak pusat perdagangan serta pertumbuhan kapitalis, termasuk London, Amsterdam, Genoa, serta Lisabon, memiliki penduduk di bawah 50.000 orang (Reid 1993: 67-77). 
Dalam soal perkapalan, Ruy de Araujo memperkirakan ada sekitar seratus jung di Melaka, setidak-tidaknya 30 diantaranya milik sultan dan saudagar lokal (Sa 1945: I: 22). Bobot sebuah jung Melaka diperkirakan di bawah 500 ton. Armada tersebut jauh lebih besar ketimbang kepunyaan saudagar-saudagar di Venesia kala itu, yang diperkirakan memiliki sekitar 12 sampai 35 kapal besar yang berbobot hampir sama dengan jung Melaka (Lane 1973: 480). 
Struktur masyarakat Asia Tenggara masih kental dengan sistem kerajaan, baik besar maupun perwakilannya yang lebih kecil, sehingga akumulasi modal (keuntungan) hanya mampu dilakukan oleh para penguasa atau sekelompok kecil orang terpilih (orang kaya). Penguasa yang kuat bisa menekan para pedagang setempat, seperti menyita aset dan tanah-tanah para pedagang, bahkan menghukum mati warganya yang kaya agar bisa menguasai aset mereka, seperti yang pernah dilakukan Sultan Mahmud (Melaka) dan Sultan Iskandar Muda (Aceh). 
Kehidupan berdagang adalah kehidupan yang mendatangkan bahaya, setidak-tidaknya pada abad ke-17 yang sedang mengalami perubahan. Semangat dagang dan penaklukan Eropa tercermin dari peri laku agresif pedagang Portugis dan Belanda. Aktivitas monopoli, dengan bantuan kekuatan militer, terhadap hasil-hasil ekspor utama Asia Tenggara merupakan hal yang belum pernah terjadi sebelumnya, baik bagi Asia Tenggara maupun dunia. 
Taktik Monopoli Belanda yakni dengan mengajukan penawaran kepada seorang penguasa pribumi bahwa VOC akan memborong semua lada atau rempah-rempah dengan syarat saudagar-saudagar Asia dan Eropa pesaingnya tidak diperbolehkan membeli hasil-hasil bumi tersebut. 
Fenomena perdagangan maritim di Asia berubah suram seiring dengan kedatangan armada-armada agresif dari Eropa, khususnya Belanda dan Portugis. Faktor pelik tersebut mendorong reaksi yang sama di berbagai kawasan: Jepang menutup diri dari perdagangan luar negeri pada 1630-an dan melarang warganya pergi ke luar negeri: kepentingan Cina di dunia luar merosot tajam pada abad ke-17, sementara negara-pelabuhan daerah-daerah pesisir Asia Tenggara, termasuk pesisir Sumatera dan Jawa, dilanda kekacauan. Episode berikutnya adalah banyak pusat-pusat perdagangan pesisir atau kerajaan mulai menarik diri ke pedalaman, seperti Melaka, Siak, Indragiri dan Mataram. Dan lambat laun pola ekonomi masyarakat Asia Tenggara berubah, dari dominasi corak maritim-perniagaan menjadi pertanian atau berkebun yang hanya mencukupi untuk kebutuhan sendiri (subsisten). 
Menjelang abad ke-18 terjadi pemisahan ekonomi antara orang Asia Tenggara dan orang Eropa. Orang-orang Asia Tenggara disingkirkan dari puncak perekonomian di mana mereka pernah mengendalikan perdagangan, mengatur sumber daya kapal-kapal barang, dan memimpin pelabuhan-pelabuhan niaga yang sibuk. Hanya sedikit orang kaya Asia Tenggara yang tinggal di luar lingkungan istana, dan istana-istana ini pun telah menarik diri sepenuhnya dari perdagangan, atau terlalu lemah menghadapi keagresifan pedagang-pedagang Eropa (Reid, h 305). 
Kecenderungan ini terus berjalan hingga abad ke-20, sehingga menghasilkan pola yang sangat menekan orang Asia Tenggara untuk semakin terbenam dalam aktivitas murni pertanian semata-mata yang tidak memerlukan modal banyak atau insentif untuk memulainya. Karena itu dunia Melayu khususnya menganggap diri memasuki abad ke-20 tanpa memiliki kelas menengah (ekonomi) yang kuat. Kontrol birokrasi menjadi kunci bagi kelangsungan hidup kelas-kelas berkuasa tradisional di Malaysia dan Indonesia. Kelas menengah fungsional dalam arti ekonomi diisi oleh unsur asing, terutama Cina, yang di negeri-negeri Islam memiliki interaksi sangat minim dengan sistem nilai dan proses politik kelompok pribumi. 
Begitu pula dengan era setelah kemerdekaan. Kondisi ekonomi masyarakat tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Pergeseran atau mobilitas ekonomi hanya terjadi terbatas pada lapisan elite masyarakat yang dekat dengan kekuasaan. 
Menurut Reid, sepanjang abad ke-20, mayoritas penduduk pribumi di wilayah Asia Tenggara adalah petani yang terpencil dari kapitalisme yang berkembang pesat di kota-kota besar. 

Malaysia adalah contoh berbeda dgn Indonesia. Menjelang krisis ekonomi mid-97 lalu, M'sia telah memiliki basis ekonomi yg cukup kuat dan sistem yg memihak kebutuhan masyarakat, namun Indonesia tidak. Jelas bila daerah kaya namun penduduknya miskin adalah akibat kepemimpinan yg salah. 

Sekian dulu Datuk S Anwar Ibrahim.
Wass,
genot widjoseno

NB.: Saya anak buah Mas Adi Sasono.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terima Kasih atas responnya.</p>
<p>Berikut sedikit saya ulas tentang sejarah kemiskinan di semenanjung ini. Penyebabnya jelas sistem liberalisme-kapitalisme. </p>
<p>Menurut Anthony Reid (Sejarah Modern Awal Asia Tenggara, Pustaka LP3ES Indonesia, 2004), kondisi kemiskinan di Asia Tenggara merupakan fakta yang tragis. Sebab penelusuran sejarah Reid, berdasar data dan dokumen tertulis Abad 16 M, menunjukkan bahwa tidak pernah ada laporan-laporan tentang adanya kekurangan pangan, bencana kelaparan dan kesengsaraan seperti sering ditemukan di India, Cina, atau bahkan Eropa pada masa itu (h. 289).<br />
Sebabnya cukup jelas. Mereka mengandalkan curah hujan yang cukup tinggi, tekanan jumlah penduduk sangat rendah, dan jika gagal panen masih banyak alternatif pengganti, seperti sagu, pisang, kelapa, ikan dan berbagai jenis umbi-umbian serta buah-buahan yang bisa diperoleh secara mudah oleh setiap orang.<br />
Perabotan rumah tangga masyarakatnya memang sangat sederhana, dan modal utama kelas-kelas bawah ditanam dalam bentuk ornamen-ornamen terbuat dari emas dan berbagai jenis senjata.<br />
Di ujung spektrum lain terdapat kemewahan dan konsumsi berlebih-lebihan yang ditemui di beberapa istana dan pusat-pusat perniagaan Asia Tenggara. Di Aceh dan Brunei, raja menjamu tamunya dengan pesta-pesta meriah beserta lusinan hidangan yang disajikan di pinggan emas (h 290). Saudagar-saudagar terkaya dari Melaka konon memiliki emas berlimpah (Sejarah Melayu, 184); Sultan Iskandar Muda dari Aceh mempekerjakan 300 tukang emas di istananya (Beaulieu, 184); seorang ahli bedah Jerman mendapat hadiah 300 rijksdaalders dari seorang saudagar Banten yang sangat berterima kasih kepadanya (Fryke 1692, 133).<br />
Kekayaan tersebut diperoleh langsung atau tidak langsung dari perdagangan. Dalam kaitan ini, kota-kota di Asia Tenggara abad ke-16 dan awal abad ke-17 lebih mirip Venesia, Genoa dan Antwerpen daripada Delhi atau Golconda (India). Menurut catatan Tome Pires (1515), seorang pengelana Portugis, magnet kawasan Melaka digambarkan lebih menonjol dibanding kawasan Laut Tengah.<br />
Ditinjau dari segi penduduk dan ukuran perdagangan, kota-kota Asia Tenggara dapat disejajarkan dengan kota tersibuk di Eropa abad ke-16. Melaka memiliki penduduk mendekati 100.000 orang pada 1520, Aceh dan Brunei setidak-tidaknya setengahnya (sekitar 50.000 orang). Pada abad ke-16 hanya Paris dan Napoli di Eropa yang berpenduduk di atas 100.000 orang. Banyak pusat perdagangan serta pertumbuhan kapitalis, termasuk London, Amsterdam, Genoa, serta Lisabon, memiliki penduduk di bawah 50.000 orang (Reid 1993: 67-77).<br />
Dalam soal perkapalan, Ruy de Araujo memperkirakan ada sekitar seratus jung di Melaka, setidak-tidaknya 30 diantaranya milik sultan dan saudagar lokal (Sa 1945: I: 22). Bobot sebuah jung Melaka diperkirakan di bawah 500 ton. Armada tersebut jauh lebih besar ketimbang kepunyaan saudagar-saudagar di Venesia kala itu, yang diperkirakan memiliki sekitar 12 sampai 35 kapal besar yang berbobot hampir sama dengan jung Melaka (Lane 1973: 480).<br />
Struktur masyarakat Asia Tenggara masih kental dengan sistem kerajaan, baik besar maupun perwakilannya yang lebih kecil, sehingga akumulasi modal (keuntungan) hanya mampu dilakukan oleh para penguasa atau sekelompok kecil orang terpilih (orang kaya). Penguasa yang kuat bisa menekan para pedagang setempat, seperti menyita aset dan tanah-tanah para pedagang, bahkan menghukum mati warganya yang kaya agar bisa menguasai aset mereka, seperti yang pernah dilakukan Sultan Mahmud (Melaka) dan Sultan Iskandar Muda (Aceh).<br />
Kehidupan berdagang adalah kehidupan yang mendatangkan bahaya, setidak-tidaknya pada abad ke-17 yang sedang mengalami perubahan. Semangat dagang dan penaklukan Eropa tercermin dari peri laku agresif pedagang Portugis dan Belanda. Aktivitas monopoli, dengan bantuan kekuatan militer, terhadap hasil-hasil ekspor utama Asia Tenggara merupakan hal yang belum pernah terjadi sebelumnya, baik bagi Asia Tenggara maupun dunia.<br />
Taktik Monopoli Belanda yakni dengan mengajukan penawaran kepada seorang penguasa pribumi bahwa VOC akan memborong semua lada atau rempah-rempah dengan syarat saudagar-saudagar Asia dan Eropa pesaingnya tidak diperbolehkan membeli hasil-hasil bumi tersebut.<br />
Fenomena perdagangan maritim di Asia berubah suram seiring dengan kedatangan armada-armada agresif dari Eropa, khususnya Belanda dan Portugis. Faktor pelik tersebut mendorong reaksi yang sama di berbagai kawasan: Jepang menutup diri dari perdagangan luar negeri pada 1630-an dan melarang warganya pergi ke luar negeri: kepentingan Cina di dunia luar merosot tajam pada abad ke-17, sementara negara-pelabuhan daerah-daerah pesisir Asia Tenggara, termasuk pesisir Sumatera dan Jawa, dilanda kekacauan. Episode berikutnya adalah banyak pusat-pusat perdagangan pesisir atau kerajaan mulai menarik diri ke pedalaman, seperti Melaka, Siak, Indragiri dan Mataram. Dan lambat laun pola ekonomi masyarakat Asia Tenggara berubah, dari dominasi corak maritim-perniagaan menjadi pertanian atau berkebun yang hanya mencukupi untuk kebutuhan sendiri (subsisten).<br />
Menjelang abad ke-18 terjadi pemisahan ekonomi antara orang Asia Tenggara dan orang Eropa. Orang-orang Asia Tenggara disingkirkan dari puncak perekonomian di mana mereka pernah mengendalikan perdagangan, mengatur sumber daya kapal-kapal barang, dan memimpin pelabuhan-pelabuhan niaga yang sibuk. Hanya sedikit orang kaya Asia Tenggara yang tinggal di luar lingkungan istana, dan istana-istana ini pun telah menarik diri sepenuhnya dari perdagangan, atau terlalu lemah menghadapi keagresifan pedagang-pedagang Eropa (Reid, h 305).<br />
Kecenderungan ini terus berjalan hingga abad ke-20, sehingga menghasilkan pola yang sangat menekan orang Asia Tenggara untuk semakin terbenam dalam aktivitas murni pertanian semata-mata yang tidak memerlukan modal banyak atau insentif untuk memulainya. Karena itu dunia Melayu khususnya menganggap diri memasuki abad ke-20 tanpa memiliki kelas menengah (ekonomi) yang kuat. Kontrol birokrasi menjadi kunci bagi kelangsungan hidup kelas-kelas berkuasa tradisional di Malaysia dan Indonesia. Kelas menengah fungsional dalam arti ekonomi diisi oleh unsur asing, terutama Cina, yang di negeri-negeri Islam memiliki interaksi sangat minim dengan sistem nilai dan proses politik kelompok pribumi.<br />
Begitu pula dengan era setelah kemerdekaan. Kondisi ekonomi masyarakat tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Pergeseran atau mobilitas ekonomi hanya terjadi terbatas pada lapisan elite masyarakat yang dekat dengan kekuasaan.<br />
Menurut Reid, sepanjang abad ke-20, mayoritas penduduk pribumi di wilayah Asia Tenggara adalah petani yang terpencil dari kapitalisme yang berkembang pesat di kota-kota besar. </p>
<p>Malaysia adalah contoh berbeda dgn Indonesia. Menjelang krisis ekonomi mid-97 lalu, M&#8217;sia telah memiliki basis ekonomi yg cukup kuat dan sistem yg memihak kebutuhan masyarakat, namun Indonesia tidak. Jelas bila daerah kaya namun penduduknya miskin adalah akibat kepemimpinan yg salah. </p>
<p>Sekian dulu Datuk S Anwar Ibrahim.<br />
Wass,<br />
genot widjoseno</p>
<p>NB.: Saya anak buah Mas Adi Sasono.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
