12
Aug
06

Terima Kasih Buat Semua..

Hjghaz mengucapkan:
Dato’ Seri,
Izinkan saya menjadi yang pertama di blog ini mengucapkan “SELAMAT HARI KELAHIRAN” pada keesokan hari 10hb Ogos, 2006.Semoga ALLAH sentiasa meletakkan Dato’Seri di pihak yang benar, melanjutkan usia Dato’ Seri dan memberi kemenangan kepada ISLAM, Negara dan Bangsa.

Islah mengucapkan:
Saya juga ambil kesempatan ini untuk ucapkan Selamat Hari Lahir.

Analyst mengucapkan:
SELAMAT HARI LAHIR Y.A. Bhg. Dato’ Seri !
Semoga Panjang Umur dan dimurahkan Rezeki. Teruskan Perjuangan !!!

Annuar mohd nor mengucapkan:
Tiada soalan cuma “Selamat Hari Lahir”

Himkl98 mengucapkan:
Salam Hari Jadi buat DSAI. semoga panjang umur, murah rezeki dan
sentiasa dirahmatiNya bagi meneruskan perjuangan reformasi.

Ibnu_mohamad mengucapkan:
Selamat Ulangtahun Dato Seri, semoga berbahagia disamping keluarga tercinta dan dipermudahkan Allah segala-galanya. Salam Ukhuwah dari peminat setia.

Kotak_tisu mengucapkan:
Saudara..salam reformasi & hari jadi

Saya ucapkan terima kasih dan hargai ingatan ikhlas sdr-sdr. Saya ini mewakili generasi lama yang tidak menyambut hari jadi. Ia hanya dihebohkan tatkala saya di penjara.


3 Responses to “Terima Kasih Buat Semua..”


  1. 1 kassim selamat Aug 12th, 2006 at 2:58 pm

    Salam Reformasi,

    ‘Lawan Tetap Lawan’ itulah slogan yang sering di ungkapkan oleh ayahku kepada kami sekeluarga dan rakan2 kira2 enam tahun yang lalu. ‘Jasad Terpenjara Jiwa Merdeka’ itulah jua kata2 keramat yang meresapi jiwa ayahku merujuk kepada penangkapan dan penahanan Dato Seri Anwar Ibrahim (DSAI) dan itulah juga ungkapan dan pelekat yang terlekat megah di kenderaannya dan di tepi kerusi rodanya ketika masih dirawat di hospital kira2 empat tahun lalu. Kerusi roda yg dahulu sinonim dengan DSAI kini bertukar ganti kepada ayah, rupanya ayahlah pemilik kekal kerusi roda itu.

    ‘Ku sangka panas hingga ke petang, rupanya hujan di tengahari’ itulah yang menimpa diri ayahku, dia yang satu masa dahulu lantang dan gagah mengharung arus gelombang ledakan reformasi bersama-sama ribuan reformis yang lain kini terkulai layu sendirian meniti waktu2 getir. Masih segar dalam ingatanku lagi ayah membawa aku bersama di setiap demontrasi jalanan yang dihadirinya disekitar Jln TAR, Sogo, Dataran Merdeka dan Kg.Baru di sekitar tahun 1998/1999, ketika itu usiaku baru 15 tahun, masih dibangku sekolah lagi.
    Masih ku ingat lagi ketika pembebasan saudara Mahfuz Omar dan saudara Lim Guan Eng dari penjara Kajang, aku membonceng motor kesayangan ayahku ‘Virago’ dengan bangga mengibarkan bendera Barisan Alternatif mengelilingi Bandar Kajang meredah lebuhraya Sg. Besi menuju Taman Melewar, Gombak.

    Peristiwa 14 Apr’1999 atau lebih dikenali dengan panggilan ‘Black 14’ masih segar dalam memori ayahku, itulah tarikh jatuhnya hukuman terhadap DSAI. Di pusat Bandar dan mahkamah hari itu dibanjiri oleh ribuan penyokong DSAI termasuk ayahku. Disetiap jalan dan lorong dipagari oleh polis dan FRU.
    Ibu Negara Kuala Lumpur gawat seketika, disekitar Jalan Tun Perak, Jalan TAR dan Masjid Negara menjadi penuh sesak dipenuhi dengan sepanduk2 menyokong DSAI. Rakyat bangkit menyuarakan rasa tidak puas hati diatas hukuman yang dikenakan terhadap DSAI. Disana sini terdengar laungan ‘reformasi! reformasi!, ‘Suara Rakyat, Suara Keramat’ dan ‘Rakyat Hakim Negara’. Trak2 polis dan ‘water canon’ sebok kehulu kehilir menyuraikan para demontrasi. Kemarahan rakyat pada masa itu tak dapat dibendung lagi….

    Begitu juga dengan himpunan rakyat disepanjang lebuhraya Kesas menuju ke Jalan Kebun, semuanya masih segar dalam lipatan memori ku dan ayahku. Perhimpunan yang disertai oleh berbagai lapisan rakyat termasuk Datin Seri Wan Azizah yang ketika itu duduk menggunakan kerusi roda. Masih teringat lagi pedihnya gas pemedih mata dan pancutan air yang dilepaskan dari ‘water canon’ oleh pehak polis bagi menyuraikan perhimpunan rakyat. Petang itu ayahku terpaksa meredah hutan bersama rakan2 melarikan diri untuk mengelak dari ditangkap oleh pehak berkuasa kerana hadir dalam perhimpunan tersebut. Dalam hiruk pikuk, motorsikal virago kesayangannya terpaksa ditinggalkan ditepi lebuhraya, bila hari menjelang senja barulah ayahku pergi mendapatkan motorsikalnya. Tapi ketika itu didapati motorsikalnya berada didalam longkang dengan kesan2 kerosakan, biasalah tuu…bak kata DSAI ‘Kalau takut dengan risiko, jangan sebut soal perjuangan’

    Kini peristiwi itu telah berlalu pergi, melihat keaadan ayahku ketika ini, teringatlah akan aku pepatah melayu ‘Kawan ketawa memang ramai, Kawan menangis sukar dicari’ Itulah yg terjadi pada ayahku, satu demi satu rakan2 seperjuangannya menghilang diri. Yaalah….apalah yang ada lagi pada ayahku yang telah lumpuh ini, tiada apa lagi sumbangan yang dapat diberikannya, tak sebanyak dan sebesar manapun sumbangannya dan penglibatannya didalam perjuangan ini jika dibandingkan dengan rakan2 reformisnya yang pernah ditahan oleh pehak berkuasa.

    Sampai disini. salam reformasi buat DSAI dan semua rakan seperjuangan.

    http://kassim8888.blogspot.com/

  2. 2 muh nur abdurrahman Sep 3rd, 2006 at 3:47 pm

    saya mahasiswa ilmu politik Universitas Hasanuddin,Makassar, Indonesia, sementara ini saya menyusun skripsi S1 dengan judul pemikiran politik Anwar Ibrahim tentang ‘Masyarakat Madani’. referensi saya: renaisans asia, beberapa kolom yang ditulis orang lain (nurcholish madjid, dawam rahardjo, dll), dan komentar2 seputar masyarakat madani. saya berharap banyak informasi langsung dari datuk sri anwar,… saya berusaha mempertahankan judul ini, meski ada tawaran universitas beasiswa penyusunan skripsi soal Mahathir Mohammad,..
    saya kagum dengan pribadi&konsistensi datuk, terlebih pemikiran-pemikiran datuk soal khazanah politik,…
    email saya: daeng.ammang@gmail.com atau daeng_ammang@yahoo.com, informasi langsung dari datuk menjadi poin penting bagi saya,…
    wassalam,…

  3. 3 Abu Ameen Sep 3rd, 2006 at 4:57 pm

    Assalamualaikum Dato’,

    The lion has finally roared. I’ve been browsing the internet, started with Malaysian Today on the update from Kongress PKR and somehow landed on YB Fong’s blog.
    I can feel almost the same sensation, 8-9 years ago during the Reformasi hype though I was a student then.
    Almost 50 years ago, Allahyarham Dato’ Onn had a vision, that Malaya can only be successful when all the races join hand as one party. it was called IMP. It naturally died of course as his vision is well ahead of his time.
    Watching the PKR congress video, I guess it’d make him smile. It made me smile.

    It has been a while, since I saw a glimmer of hope to see Malaysia as a just and truly democratic country irregardless of race and religion. Most of the malays (before people jump to conclusion, I’m a Malay Muslim myself) have always been claiming that they needed help and attention from the government and other races are doing well. What they didn’t notice is that other races suffer as well. They need the attention as well. They pay their taxes as well. The ruling government, uses fear politics to amplify this and govern us…so they can always use the race and stability trump card when they’re in fear of their position.
    Being a Malaysian, I’m proud to see a lot of blogs like this are populating the internet. I hope you and all tohers keep it up. Though we may not share the same page on certain matters, but I’ll die defending your right to speak up your view.
    It’s time for this beloved nation to change. No, it’s time for the people of this nation to change.
    We’re all patriots of this country. This means fighting to develop a country fully democratic and liberal for its people and that it is exactly necessary to blame the ruling government when they do wrong as to praise them when they do right.
    No more disregard of basic human rights in Malaysia.
    No more pecah amanah.
    No more manipulation of media.
    No more attacks based on race.
    No more incompetent federal response.
    No more silence by the Malaysian people.

    We will continue to raise our voices. We will not be silent.

    Let this be a new dawn. My wish, is I’d be there in Malaysia when the wave of reform, hits Malaysia again. I missed the 1998, and missed meeting you before you went bertapa. The closest I got, is to pass some sweets from Omar Hallak to your family at Damansara (that time your house is holding a breakfast for Ramadhan, I left as I had other arrangements). My wish and dream Insya-Allah, to see you lead the country again.

    Keep up the excellent work.

    Abu Ameen.

Leave a Reply