Saya ada menerima teguran dari kiayi Sunan Drajat kerana tidak menyebut gelaran “orang tua” yang dianugerah oleh keluaraga Pesantren Sunan Drajat. Saya pohon maaf kerana saya tidak bermaksud meremehkan penobatan tersebut yang saya terima dengan penuh tawadduk dan rendah diri. Tatkala menghimbau pengalaman saya dan rakan-rakan di Pondok Pesantren Sunan Drajat bersama Kiayi Hj Abdul Gafur, para kiayi dan santri, saya sengaja tidak menyebut mengenai “orang tua” kerana saya kira ia memberi signifikan keruhanian dan tidah semestinya dihebahkan.
Saya tetap menganggap penobatan tersebut bersama sebagai keluarga Pesantren sebagai sesuatu yang mulia kapada manuasia kerdil saperti saya. Semoga Allah swt memberikan hidayah dan kekuatan.
















Assalamualaikum DS,
Thus is the first time I’m logging-in. Tak faham sangat.
Seperti kata Guru saya ,”Orang tua jln bertongkat, rimba jauh nampak dekat,kalau kita sudah sepakat, rimau di hutan dapat diikat.”
Apakah maksud DS gelaran ‘orang tua” yang diterima itu? Saya juga ingin kepastian DS bergurukan Almarhum Haj Sunardjo atau kiayi yang lain.
KAMI ( saya & sahabat )ada mengingati DS tentang Pesantren & “cincin” beberapa bulan yang lalu di satu malam Jumaat dirumah DS sendiri. Dan semalam DS ada menyebut Sunan Drajat lagi. Hari ini baru saya tahu DS telah menziarahi sana. Kalau kami tahu, ingin juga turut serta. Kami adalah murid pidato nusantara dan diamanahkan melebarkan serta menebar ilmu pidato ini. Saya kira DS mampu membantu kami dalam usaha ini. Insya’Allah, bertemu kembali di Puchong nanti.
“…pidato nusantara,telah membijaksanakan berfikir, memandu minda mengatur budaya, memercikkan mutiara ilmu, mengangkat martabat warga, di persada negara, di pentas antarabangsa….”